Pertengkaran dimulai saat kau mengatakan suatu hal tentang diriku yang menurutku itu terlalu sensitif, tetapi bagimu tidak begitu, entahlah. Aku marah seketika saat itu karena aku merasa tersinggung dengan kata-katamu, aku coba untuk menahannya, tapi kau terus membicarakan topik yang sama dan membuatku merasa malas menyambungnya.
Sekali lagi kukatakan, aku bukanlah pribadi yang mudah berbicara langsung padamu saat aku marah, kecewa dan tersinggung padamu. Aku hanya bisa mengisyaratkan melalui sikapku padamu, melalui pesan instan yang ku kirim padamu dengan nada datar saat ku membalasnya. Aku yakin kau sangat tahu tentang itu, tapi entah malam itu sepertinya benar katamu, aku terlalu sensitif hingga mudah sekali untuk terpancing emosi.
Kau mengirim pesan singkat padaku yang bernada serupa denganku sebelumnya, membantah jika kau telah membuatku tersinggung dan membuatku berpikir bahwa kau tak menerima keadaanku yang seperti ini. Namun, entah emosi yang saat itu membendung sebagian hatiku mengalahkan permintaan maafmu padaku hingga terjadi pertengkaran yang membuatku berpikir untuk memutuskan pergi dari kehidupanmu.
Malam itu, aku menangis sejadinya. Aku menangisi pertengkaran yang terjadi sesaat sebelumnya dan aku menangisi dirimu karena aku sangat tidak ingin kita berpisah. Namun, aku seperti dihadapkan pada pilihan yang sulit saat itu, separuh jiwaku mencoba keluar dari lingkaran cerita tentang dirimu. Bagian lain dari jiwaku tetap memilih bertahan untuk bersamamu dengan jalinan kasih yang indah.
Aku berpikir terlalu cepat saat itu untuk kemudian memutuskan pergi meninggalkanmu, tapi aku bukanlah seorang yang tanpa tanggung jawab pergi begitu saja tanpa meminta persetujuan dari dirimu yang juga ikut andil dalam hubungan ini. Aku mengutarakan hal ini padamu, bukan? Kau menghalangiku saat aku berkata "sebaiknya aku pergi dari dirimu." Kau mencegahku pergi karena kau juga tak menginginkan hal itu terjadi, sama halnya dengan diriku, lebih tepatnya lubuk hatiku yang paling dalam karena aku mencintaimu sungguh.
Entah berapa argumen yang telah aku sampaikan untuk mengatakan aku harus pergi untukmu. Pergi dengan dirimu sebagai alasannya. Pergi untuk kebaikanmu. Namun, kau tetap berusaha menghalangiku dan mencoba meluluhkan setumpuk emosi yang bergelut dengan cinta dalam hatiku. Dan kau berhasil tentunya. Aku yang memang sangat tidak menginginkan terjadi perpisahan diantara kita bisa kembali menerima semua permintaan maafmu dan kembali merasakan kehangatan cintamu.
Apapun yang terjadi, aku tidak ingin kita 'berjarak'. Aku sangat mencintaimu, meski aku kerap kali menangisimu, itu karena aku sayang padamu. Dan kau, kau adalah orang terkasih yang memang pantas untuk ku tangisi saat hubungan kita mulai goyah.
Untuk cinta, untukmu yang terkasih :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
sopan ya cemans :)